in Malam, Cappuccino…

fotddMalam, Cappuccino, dan layar notebook yang menyala. Paduan yang indah untuk membungkus gundah, menyimpannya sejenak dalam kotak yang berkunci. Nikmatilah saat-saat ini, saat kau bisa berdiskusi dengan malam yang hening. Atau sekedar bercengkerama dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa karena ‘tak kau biarkan mereka untuk sekedar hinggap di tubuhmu.

Torabika Cappuccino itu kubeli dari warung sebelah, harganya seribu lima ratus. Kukira seribu, sama seperti Kopi Susu. Ditambah dengan air… Sudahlah, air itu kudapatkan gratis.

Notebook itu kubeli waktu aku awal menjadi mahasiswa, empat juta tujuh ratus ribu kalau tidak salah.

Empat juta tujuh ratus ribu ditambah seribu lima ratus, itu harga yang harus kubayar untuk bisa menimati malam seromantis ini. Sebentar, sepertinya ada yang lupa kuhitung.

Malam, Cappuccino, layar notebook yang menyala…

Tiga bahan dasar pemicu insomnia malam ini…

Berapa harga malam? Seribu, dua ribu, tiga ribu? Empat juta, lima juta, enam juta? Berapa? Apakah malam juga punya harga, seperti Cappuccino yang kudapat dari warung sebelah. Coba kutanya penjaga warung, barangkali ia tahu. Ah, tapi mana mungkin ia tahu.

Malam yang romantis menjadi misteri, misteri tentang harga malam yang ditawarkan oleh Tuhan. Nah, itu dia! Tuhan pasti tahu harga malam, Ia yang menciptakan. Aku ingin bertanya, tapi sepertinya Tuhan sudah punya jawaban: Adz-Dzariat ayat lima puluh enam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s