Berbagi Cerita tentang Farmasi UAD

Sebagai pembuka artikel ini, saya ucapkan selamat bergabung menjadi mahasiswa UAD bagi adik – adik 2011.. Siapa nih? siapa nih yang diterima di fakultas Farmasi?

Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang farmasi menurut kacamata saya, melalui artikel berikut ini :

Pharmacist: a Good Designer!

When you are taking medicine, have you ever thought…

“How can this medicine take away my pain?”

Or

“Why are there so many forms of Medicine: tablet, capsule, syrup, injection, suppository, and so on?”

Or the aesthetic question such as:

“These 2 medicines have the same active ingredient, Paracetamol. Why this one is red yet the other one is not?”

And then the biggest question is…

“How does the Pharmacist do it? How does the Pharmacist know whether it is better to make tablets instead of syrup?”

Here the story goes.. (I’ll make it simple!)

Pembuatan suatu sediaan obat (tablet, kapsul, sirup, supositoria, dan lainnya.red) merupakan suatu proses kompleks yang panjang. Terdiri dari berbagai tahapan yang memerlukan kemampuan dan keahlian dari seorang farmasis. Kali ini, saya akan membagi pembuatan sediaan obat ke dalam 2 jenis:

1. Sediaan obat dari zat aktif baru (contohnya seperti obat HIV yang baru di-approve oleh FDA3 (http://www.medscape.com/viewarticle/743129)
2. Sediaan obat dari zat aktif yang sudah ada (contohnya seperti berbagai jenis sediaan obat dengan zat aktif parasetamol, aspirin, atau amoksisilin)

Untuk pembuatan sediaan obat jenis pertama, sudah tentu tahapannya lebih panjang, karena diawali dengan penemuan suatu zat baru yang berguna untuk dijadikan obat. Tahapan penemuan zat obat ini biasa disebut tahapan desain obat (drug design.red). Dosen saya berkata, drug research is the search for a needle in a haystack. Kenapa? Hal ini karena begitu banyak senyawa di dunia ini, yang untuk kemudian dikembangkan menjadi suatu obat, senyawa tersebut harus sangat sesuai. Nah, pencarian senyawa yang sesuai inilah yang kemudian menjadi sangat sulit.

Beruntung para ilmuwan farmasis masa kini, tahapan desain obat ini dapat dibantu dengan berbagai software yang dapat memprediksi sifat – sifat suatu senyawa. Dalam memprediksi sifat – sifat senyawa ini, tentunya dibutuhkan kemampuan yang handal di bidang kimia medisinal, hingga pada akhirnya dapat ditemukan beberapa senyawa yang potensial untuk disintesis dan prospektif dikembangkan menjadi sediaan obat.

Ratusan tahun yang lalu, aspirin ditemukan oleh ilmuwan sebagai obat pereda nyeri. Sejarah penemuan zat aspirin ini diawali dengan penggunaan kulit batang pohon willow (Salix L.) yang terbukti secara empiris (berdasarkan kebiasaan.red) dapat mengobati sakit kepala, demam, dan nyeri. Kulit batang pohon tersebut kemudian diteliti kandungan senyawa kimia-nya (dapat dibayangkan betapa banyaknya senyawa yang dikandung), hingga akhirnya diketahui ada zat bernama salicyn yang kemudian diproses lebih lanjut menjadi asam asetilsalisilat yang lebih dikenal sebagai aspirin1.

Nah, mari kita fast forward ceritanya…

Setelah zat obat ditemukan, apa lagi yang dilakukan farmasis? And once again I’ll make it simple

Zat obat yang ditemukan kemudian kita sebut sebagai zat aktif. Ada tahap yang dinamakan uji pra klinik, uji ini dilakukan terhadap hewan uji. Pengujian dilakukan untuk mendapatkan data toksisitas akut (dosis yang menyebabkan keracunan.red), data ada atau tidaknya kemungkinan kerusakan organ, efek karsinogenik (menginduksi kanker.red), efek mutagenik (menyebabkan mutasi gen.red), dan juga efek teratogenik (kecacatan pada bayi dalam kandungan.red). Jika dalam pengujian pra klinik obat ini terbukti aman dan didukung berbagai data yang memenuhi persyaratan, barulah kemudian dilakukan uji klinik. Uji klinik ini terdiri dari 4 tahap, 3 tahap sebelum registrasi obat, dan 1 tahap saat obat telah dipasarkan. Penjelasan tiap tahapannya bisa dilihat disini: clinical trial2 (http://clinicalresearch.nih.gov/how.html). Dalam tahapan ini, farmasis juga berperan untuk mendesain, yaitu mendesain rencana dan metodenya.

Lanjut… Kita langsung saja kepada bagian ketika zat aktif ini telah diketahui rentang dosis dan berbagai data farmakologi, serta toksikologinya.

Zat aktif ini kemudian akan dijadikan sediaan obat. Untuk membuat suatu sediaan obat tentunya diperlukan desain yang paling sesuai untuk setiap jenis zat aktif. Hal ini dipengaruhi sifat fisikokimia dari zat aktif tersebut. Sifat fisikokimia ini diantaranya: kelarutan (seperti halnya gula yang dapat larut di air; zat aktif juga memiliki karakteristik masing – masing, ada yang larut di air, ada yang larutnya di alkohol; dan lain sebagainya.red); pH; bentuk kristal; inkompatibilitas (interaksi zat aktif dengan zat lain yang menimbulkan efek tidak diinginkan terhadap zat aktif.red) dan stabilitas. Data – data fisikokimia ini diperhitungkan dalam pemilihan bahan tambahan pada pembuatan sediaan obat. Data – data tersebut juga mempengaruhi pemilihan bentuk obat baik tablet, sirup, suspensi, emulsi, kapsul, dan yang lainnya. Selain pertimbangan sifat fisikokimia, pembuatan sediaan obat juga dipengaruhi dengan pertimbangan pasien (untuk siapa sediaan tersebut digunakan: anak – anak? Dewasa? red). Penerapan data – data tersebut dalam mendesain sediaan obat contohnya adalah sebagai berikut:

Suatu zat aktif bernama ibuprofen, merupakan obat untuk meredakan nyeri (analgesik.red), demam (antipiretik), dan inflamasi. Zat ini memiliki sifat kelarutan yang buruk (zat ini sangat sulit dibuat larutan dalam air.red). Tentunya bisa saja zat obat ini dibuat tablet, tetapi obat ini akan ditujukan untuk anak – anak yang notabene lebih mudah menelan bentuk sediaan cair daripada bentuk padat.

Lantas bagaimana?

Disinilah kemampuan dan keahlian seorang farmasis sangat berperan. Sebuah sediaan akan didesain dalam bentuk cair dari zat aktif yang sukar larut.

Bagaimana caranya?

Beginilah kisi – kisi seorang farmasi mendesainnya. Kita semua tentunya tahu ada sebuah sistem yang bernama suspensi, suatu sistem dispersi 2 fasa yang terdiri dari fasa dalam dan fasa luar, dimana fasa dalamnya berbentuk padat dan fasa luarnya berbentuk cair. Sistem ini yang kita kenal adalah cat dan lumpur. Sistem ini juga dimanfaatkan dalam pembuatan sediaan obat, Dengan campur tangan pengetahuan farmasi, zat aktif yang sukar larut sekalipun dapat ditemukan dalam bentuk sediaan cair di pasaran.

Pembuatan sediaan obat ini tidak sesederhana itu, setelah bentuk sediaan ditentukan, sediaan obat ini didesain harus memenuhi berbagai spesifikasi yang telah ditetapkan, ibaratnya seperti suatu pabrik penghasil permen rasa strawberry, yang akan membuat permen kenyal berwarna merah. Tentunya pabrik permen ini memiliki suatu takaran yang pasti mengenai seberapa banyak pewarna yang akan diberikan dan berapa banyak essence strawberry yang akan ditambahkan. Secara sederhana begitu pula yang terjadi dalam membuat sediaan obat, sudah ada suatu takaran yang pasti untuk memastikan produk yang dihasilkan AMAN, BERMANFAAT, dan BERKUALITAS, yang membedakan adalah ketatnya peraturan yang berhubungan dengan obat dan juga efek obat yang dapat mempengaruhi fisiologi tubuh manusia.

Ketika sediaan obat yang dihasilkan telah memenuhi spesifikasi, tidak begitu saja sediaan obat ini dilepaskan ke pasaran. produk obat kemudian didaftarkan ke badan yang berwenang, di Indonesia tentunya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (Baca juga, “BPOM, polisinya obat). Setelah terdaftar barulah obat bisa dipasarkan. Sesampainya di pasaran, penggunaan sediaan obat terus dipantau (uji klinik tahap 4) melalui kegiatan yang disebut pharmacovigilance. Menurut WHO, pharmacovigilance ini merupakan sains dan suatu kegiatan yang berhubungan dengan deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping dan berbagai reaksi merugikan yang terkait karena penggunaan obat. Tujuanpharmacovigilance ini salah satunya adalah untuk meningkatkan pelayanan, kesehatan, dan kemanan masyarakat. Dalam masa pengujian ini pulalah bisa diketahui suatu obat harus ditarik dari peredaran karena efek samping merugikan yang sangat berbahaya.

Panjang kan perjalanan suatu obat hingga dapat digunakan dan diresepkan, serta mengobati berbagai macam penyakit? Tahapan yang panjang ini pada akhirnya juga berimbas pada harga obat. Ya, begitulah proses panjang dan kompleks penuh dengan perencanaan dan desain. Dimulai dengan desain senyawa obat yang levelnya molekular, desain bentuk sediaan obat, sampai desain penelitian penggunaan obat. Dari semua itu, here what I want to say…

“that’s why pharmacist should also be a good designer”!

jangan lupa komentar nya ya!!!

REFERENSI:

1. http://inventors.about.com/library/inventors/blaspirin.htm tanggal akses 27 Mei 2011
2. http://clinicalresearch.nih.gov/how.html tanggal akses 29 Mei 2011
3. http://www.medscape.com/viewarticle/743129 tanggal akses 29 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s